MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK SEBAGAI ALTERNATIF MENGATASI MASALAH PEMBELAJARAN
I. PENDAHULUAN
Pada era sekarang ini masih ditemui guru dilingkungan sekolah yang dalam pelaksanaan proses pembelajaran masih konvensional. Untuk itulah guru hendaknya selalu mengembangkan pengetahuanya tentang teori-teori pembelajaran dan mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan kualitas pengajaran agar mampu menggali potensi peserta didik supaya berkembang secara optimal. Salah satu teori pembelajaran yang bisa dimanfaatkan sebagai referensi proses pembelajaran adalah teori pembelajaran konstruktivistik. Untuk itulah maka perlu para pendidik mengerti dan memahami bagaimana pembelajaran yang bernuansa konstruktivistik dapat dihadirkan dalam proses pembelajaran
II. PEMBAHASAN
1. Hakekat Pembelajaran Konstruktivistik
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit dan hasilnya diperluas melalui proses berpikirnya. Dalam teori konstruktivisme bahwa dalam proses pembelajaran, si pembelajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka dan mereka harus bertanggungjawab terhadap hasil belajarnya. Untuk itulah proses pembelajaran harus lebih diarahkan pada experimental learning yang merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit yang kemudian diimplementasikan dan dijadikan ide untuk mengembangkan konsep baru. Maka eksistensi dalam mendidik tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pembelajar.
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam konteks yang relevan,
(2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman sosial, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman
2. Keunggulan penggunaan konstruktivistik dalam pembelajaran
Berikut ini diberikan 6 keunggulan penggunaan konstruktivistik dalam pembelajaran,yaitu:
a. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya,serta mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
b. Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan siswa yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka dan memiliki kesempatan untuk merangkai pengetahuannya
c. Memberi kesempatan siswa untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa-siswa berpikir kreatif dan imajinatif
d. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar
e. Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka
f. Memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan dan saling menyimak
3. Strategi Pengajaran dengan Konstruktivistik
Dalam menciptakan pembelajaran secara konstruktivistik strategi pengajaran guru sangatlah penting. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran konstruktivistik:
a. Menghormati ide dan kebebasan berpikir murid dan menghargai otonomi serta inisiatif murid
b. Menggunakan terminologi kognitif seperti klasifikasi, analisis, meramal, dan mencipta dengan leluasa
c. Mendorong murid terlibat dalam dialog dengan guru dan sesama rekan serta membina pengetahuan personal mealui diskusi kelompok
d. Memberikan soal-soal yang penuh dengan proses berpikir dan pertanyaan yang memerlukan jawaban banyak (open ended)
e. Memberi peluang kepada murid berpikir untuk membina hubungan-hubungan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah tersedia
f. Menekankan pembelajaran yang berpusatkan pada siswa (student centered) melalui konsep-konsep pembedahan, penyelidikan serta ramalan dalam bentuk kooperatif learning
g. Pengajaran guru harus dipertimbangkan dengan pengetahuan yang telah tersedia dalam diri anak
4. Rancangan Pembelajaran Konstruktivistik
Berdasarkan teori J. Peaget dan Vygotsky maka pembelajaran dapat dirancang atau didesain model pembelajaran konstruktivis di kelas sebagai berikut:
Pertama, identifikasi prior knowledge dan miskonsepsi. Identifikasi awal terhadap gagasan intuitif yang mereka miliki terhadap lingkungannya dijaring untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan akan munculnya miskonsepsi yang menghinggapi struktur kognitif siswa. Identifikasi ini dilakukan dengan tes awal, interview
Kedua, penyusunan program pembelajaran. Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran.
Ketiga orientasi dan elisitasi, situasi pembelajaran yang kondusif dan mengasikkan sangatlah perlu diciptakan pada awal-awal pembelajaran untuk membangkitkan minat mereka terhadap topik yang akan dibahas. Siswa dituntun agar mereka mau mengemukakan gagasan intuitifnya sebanyak mungkin tentang gejala-gejala yang mereka amati dalam lingkungan hidupnya sehari-hari. Mengungkapan gagasan tersebut dapat melalui diskusi, menulis, ilustrasi gambar dan sebagainya. Gagasan-gagasan tersebut kemudian dipertimbangkan bersama. Suasana pembelajaran dibuat santai dan tidak menakutkan agar siswa tidak khawatir dicemooh dan ditertawakan bila gagasan-gagasannya salah. Guru harus menahan diri untuk tidak menghakiminya. Kebenaran akan gagasan siswa akan terjawab dan terungkap dengan sendirinya melalui penalarannya dalam tahap konflik kognitif.
Keempat, refleksi. Dalam tahap ini, berbagai macam gagasan-gagasan yang bersifat miskonsepsi yang muncul pada tahap orientasi dan elisitasi direflesikan dengan miskonsepsi yang telah dijaring pada tahap awal. Miskonsepsi ini diklasifikasi berdasarkan tingkat kesalahan dan kekonsistenannya untuk memudahkan merestrukturisasikannya.
Kelima, resrtukturisasi ide, (a) tantangan, siswa diberikan pertanyaan-pertanyaan tentang gejala-gejala yang kemudian dapat diperagakan atau diselidiki dalam praktikum. Mereka diminta untuk meramalkan hasil percobaan dan memberikan ala an untuk mendukung ramalannya itu. (b) konflik kognitif dan diskusi kelas. Siswa akan daapt melihat sendiri apakah ramalan mereka benar atau salah. Mereka didorong untuk menguji keyakinan dengan melakukan percobaan. Bila ramalan mereka meleset, mereka akan mengalami konflik kognitif dan mulai tidak puas dengan gagasan mereka. Kemudian mereka didorong untuk memikirkan penjelasan paling sederhana yang dapat menerangkan sebanyak mungkin gejala yang telah mereka lihat. Usaha untuk mencari penjelasan ini dilakukan dengan proses konfrontasi melalui diskusi dengan teman atau guru yang pada kapasistasnya sebagai fasilitator dan mediator. (c) membangun ulang kerangka konseptual. Siswa dituntun untuk menemukan sendiri bahwa konsep-konsep yang baru itu memiliki konsistensi internal. Menunjukkan bahwa konsep ilmiah yang baru itu memiliki keunggulan dari gagasan yang lama.
Keenam, aplikasi. Menyakinkan siswa akan manfaat untuk beralih konsepsi dari miskonsepsi menuju konsepsi ilmiah. Menganjurkan mereka untuk menerapkan konsep ilmiahnya tersebut dalam berbagai macam situasi untuk memecahkan masalah yang instruktif dan kemudia menguji penyelesaian secara empiris. Mereka akan mampu membandingkan secara eksplisit miskonsepsi mereka dengan penjelasa secara keilmuan.
Ketujuh, review dilakukan untuk meninjau keberhasilan strategi pembelajaran yang telah berlangsung dalam upaya mereduksi miskonsepsi yang muncul pada awal pembelajaran. Revisi terhadap strategi pembelajaran dilakukan bila miskonsepsi yang muncul kembali bersifat sangar resisten. Hal ini penting dilakukan agar miskonsepsi yang resisten tersebut tidak selamanya menghinggapi struktur kognitif, yang pada akhirnya akan bermuara pada kesulitan belajar dan rendahnya prestasi siswa bersangkutan.
Yang perlu dipahami bahwa model pembelajaran konstruktivistik bisa menjadi kontraproduktif jika tidak didukung oleh lingkungan belajar yang tepat. Tujuan dari model konstruktivistik ini adalah untuk menciptakan insan-insan pembelajar, insan-insan yang senantiasa terdorong untuk mengembangkan diri melalui belajar. Bukan pembelajar yang hanya puas setelah materi yang ditargetkan telah dikuasai. Untuk mendorong munculnya mental pembelajar, maka institusi pendidikan harus diciptakan sebagai masyarakat pembelajar. Model konstruktivistik akan mencapai hasil yang optimal hanya jika diterapkan dalam lingkungan manusia pembelajar.
Oleh karena itu institusi pendidikan harus mengembangkan model managemen yang memberi ruang bagi segenap elemen di dalamnya untuk berpartisipasi,berkreasi, dan berinovasi dalam menjalankan tugas-tugasnya. Karena, hanya dengan memberi ruang demikian, manusia terdorong untuk terus menerus belajar dan mengembangkan diri. Untuk mencapai maksud tersebut, di semua level management harus diterapkan Learning Organization. Jika tidak, cita-cita menghasilkan pelajar dan mahasiswa pembelajar hanyalah sebuah mimpi.
III. PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka untuk mengatasi beraneka ragam persoalan dalam pembelajaran yang semakin rumit perlu dicari alternatif pembelajaran yang lebih mampu mengatasi semua persoalan pembelajaran yang ada, salah satunya adalah pendekatan konstruktivistik yang telah diuraikan dalam tulisan ini. Pendekatan ini menghargai perbedaan, menghargai keunikan individu, menghargai keberagaman dalam menerima dan memaknai pengetahuan.
2. Saran
Dalam menciptakan pembelajaran yang bernuansa konstruktivistik peranan guru dalam memanagemen pembelajaran sangatlah penting untuk itulah guru harus mampu menjadi fasilitaor pembelajaran yang bersifat konstruktivistik dalam proses pembelajaran dan mampu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pendekatan konstruktivistik ini
Komentar
Posting Komentar